“AGAMA SUFI MEMBACA MAULID”

DEGRADASI ROHANI

Kehidupan modern berawal sejak pecahnya revolusi industri di Barat pada abad ke-17 yang sampai sekarang telah mendominasi kehidupan umat manusia. Salah satu cirinya yang amat menonjol adalah sikap-sikap hedonistik dan matrialistik, artinya nilai-nilai spiritual yang immaterial yang dulunya di masa Rasulullah dan di abad klasik menjadi idola umat, berubah total dan digantikan oleh nilai-nilai bendawi yang material.

Orang – orang mulai berebut mengejar kekayaan duniawi. Demi memenuhi kenikmatan sejenak mereka tidak malu mengorbankan harga diri, martabat keluarga, bahkan mereka tidak segan-segan cekcok lalu berkelahi satu sama lain hanya untuk mendapatkan sebuah posisi atau jabatan publik, sungguh amat naïf. Tidak hanya antar individu bahkan antar bangsa dan negara terjadi penjajahan, apakah penjajahan politik, penjajahan ekonomi, maupun penjajahan intelektual dan sebagainya. Ini semua berawal dari sikap hedonistik dan matrialistik tadi,

Hingga kita semakin lupa siapakah kita ini sebenarnya, musliminkah? mukmininkah? muttaqinkah? khalifah Allah kah? Umat Muhammad kah? Khaira ummatin kah? atau kita sama saja dengan makhluk lain atau bahkan lebih rendah lagi, hanya budak perut dan kelamin ?

Tak merasa bersalah saat kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan. Tak merasa gundah saat berkelahi demi menegakkan kebenaran, tak merasa malu melacur dan menipu demi keselamatan, tak merasa keliru ketika memamerkan kekayaan demi mensyukuri kenikmatan, tak merasa pilu ketika memukul dan mencaci demi pendidikan, tak merasa kelewatan ketika berbuat semaunya demi kemerdekaan, tak merasa rugi ketika membiarkan kemungkaran demi kedamaian. Singkat cerita, demi yang baik kita halalkan semua sampai ke hal yang tidak baik.

Kasus seperti ini menandakan ada sesuatu yang hilang dari hati umat kita dewasa ini, yakni Nabi Muhamaad SAW, hingga kesejukan, keindahan, dan kepuasan, berkomunikasi  dengan Sang Kholiq Yang Maha Pengasih dan Penyayang tak dapat lagi kita rasakan.

Jiwa kita kelihatan gersang, kita mudah tersinggung, lalu marah, putus asa, dan sebagainya. Bunuh diri, kekerasan, demonstrasi, provokator dan lain – lainnya, boleh jadi sebagai salah satu wujud dari kegersangan jiwa tersebut. Dalam kondisi demikian, peranan olahrohani yang menjadi areal garapannya tasawuf menempati posisi yang strategis dan menjanjikan agar kita menjadi islam yang tak kehilangan nikmatnya ber-Tuhan, agar kita menjadi islam yang tak kehilangan Nabi Muhammad SAW.

Fenomena yang digambarkan tersebut di atas, sangat sulit kita jumpai di masa Nabi. Jangankan di masa Nabi, di abad-abad klasik saja sulit kita temukan. Di mana mereka lebih mengutamakan nilai-nilai spiritual ketimbang nilai-nilai fisik material. Imam Syafi’I misalkan, lebih memilih masuk penjara 2 tahun dibanding menerima tawaran khalifah Harun Al Rasyid untuk menjadi ketua Mahkamah Agung. Sikap semacam ini sangat bertolak belakang dengan prilaku kehidupan orang-orang modern seperti sekarang.

Ini menunjukkan jalan sufistik yang ditempuh oleh Nabi dan ulama di abad klasik perlu untuk kembali kita denyutkan di setiap nadi kehidupan ber-Agama, berbangsa dan bernegara. Agar tiap sendi gerak kehidupan kita, kita bukan hanya merasa di awasi Tuhan, namun juga seakan-akan Tuhan hadir beserta kita.

Hal ini bisa kita mulai dengan ber-Agama sesuai firman-Nya Yaa ayyuhal ladziina aamanud khuluu fissilmi kaaffah yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, masukklah kamu dalam islam itu secara keseluruhan.

Penulis memahami bahwa islam kaffah akan didapat wujudnya dari pengamalan iman, islam dan ihsan, artinya lahiriah dan batiniah harus islam. Jika tanganku tak mencuri maka lahirku islam, namun ketika hatiku lalai karena membenci, maka sifat benci itu bukanlah sifat islam sebagaimana yang penulis pahami. Oleh karena itu, sifat tersebut harus di islamkan (baca: diredam). Agar nikmat islam kaffah dapat kita rasakan. (Lihat tafsir Ibnu Asyur, dalam kitab tafsirnya at-Tahriri wat-Tanwir)

MEMBACA TUHAN

Sebagai bangsa berketuhanan Yang Maha Esa, saat kita berniat melakukan reformasi, ternyata kita juga telah melupakan hal yang paling atau minimal termasuk yang paling pokok. Yaitu, mereformasi pandangan kita tentang Tuhan.

Diwaktu kepentingan duniawi menguasai dan menyibukkan kita, berangsur-angsur Tuhan pun tersisih dari perhatian kita. Kita merasa sudah cukup bertuhan hanya dengan doktrin yang kita dengar dari mulut ke mulut atau teks yang kita baca. Namun, untuk berfikir bertingkah laku, menjadi seperti yang sering di anjurkan-Nya (baca: menjadi pribadi Rasulullah) jarang atau mungkin tak pernah kita lakukan sebagai upaya untuk mengenal-Nya.

Hingga yang terjadi kemudian, banyak orang ber – Tuhan tanpa mengenal Tuhannya dan tanpa berusaha mengenal – Nya. Tingkah laku mereka inilah yang belakangan menimbulkan persepsi bahwa tuhan itu terkesan “Maha Menyusahkan” atau “Maha Pemarah” dan agama-Nya terkesan sulit nan berat. Semakin jauh sikap keber-Agama-an ini dilakoni, maka akan membuat kita semakin tidak akrab dengan kerahiman-Nya dan kerahmatan Agama-Nya.

Agama yang dulunya menjadi rahmat melalui laku, cakap, dan fikirnya Nabi Muhammad SAW kini telah menjadi agama yang dianggap laknat oleh sebagian pihak dikarenakan laku, cakap dan fikir kita. Fenomena ini tidak terjadi serta merta, namun memiliki penyebab utama yaitu tidak mengenal Allah serta kehilangan Nabi-Nya. Hingga sifat Tuhan adalah kebaikan, kebenaran, dan keindahan serta Tuhan adalah cinta, tidak lagi membias dan terpancar pada tingkah laku kita sehari-hari, tentu saja ini akibat jauhnya kita dari Yang Maha Dekat, Allah SWT dan butanya kita terhadap manusia mulia, Nabi Muhammad SAW.

Di salah satu hadis Qudsi berkata Allah, “Aku adalah pembendaharaan yang tersembunyi dan aku ingin dikenal”. Ini merupakan isyarat betapa Tuhan ingin dikenal. Hanya saja perlu kita ketahui bersama bahwa mengenal Tuhan bukanlah hal yang instan tanpa proses yang melelahkan dan mengguncang serta menggugah kesabaran. Hal tersebut bisa kita lihat dari proses yang dilakukan Nabi Muhammad SAW ketika berkhalwat di Gua Hira selama kurang lebih 13 tahun.

AGAMA SUFI MEMBACA MAULID

Proses mengingat Allah (baca : dzikir) sukses dilakukan Nabi kita, kesuksesan yang karenanya Allah mengundang Nabi kesidratul muntaha. Proses ini membuat Tuhan berkenan mengingat Beliau (baca: memindahkan dimensi, atau isra dan mi’raj). Ini sejalan dengan firman Allah QS. Al-Baqarah ayat 152 “ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan ingat kepadamu”.

Tentu saja ketika kita mengingat Allah maka dimensi yang berlaku adalah dimensi dunia, namun jika Allah yang mengingat kita, maka dimensi ke-Tuhanan lah yang berlaku, ini jugalah yang disebut maqam ihsan dalam ilmu tasawuf. Dimensi inilah yang tidak hanya dirasakan namun telah dialami oleh Nabi Agung kita, Muhammad SAW. (lihat tafsir Imam al-Razi dalam kitabnya Lawami’ al-Bayyinat Syarh Asma’ Allah Ta’ala wa al-Shifat) 

Proses mengingat Allah (baca : dzikir) inilah yang kemudian turun temurun menjadi salah satu amalan para sufi yang berboncengan dengan harapan bahwa ketika kita betul dalam mujahadah mendekatkan diri kepada Allah maka sifat-sifat Allah akan tercermin dalam prilaku kita sehari-hari layaknya Rasulullah. Sebagaimana di dalam hadis Qudsi yang riwayatkan oleh bukhori, bahwa Allah berkata :

“innallah qaala : Man’aadalil waliyyan faqad aadhantuhu bil harbi wamaa taqar raba ilayya abdii bisyai’in ahabu ilayya mimmaf taradh tuhu ‘alaihi wamaa yazaalu’abdii yataqorrobu ilayya binnawaafilli hatta uhibbahu faidza ahabtuhuu. Kuntu sam’ahul ladzi yasma’u bihii wabashara hulladzi yubshiru bihii wa yadaahul latii yabthusyu bihaa warujlahullahtii yamsyii bihaa wa lain saalanii la’u’thiyannahuu wa lainnis ta’aaadzanii lau’ii dzannahuu”

Artinya : “Barangsiapa yang memusuhi seseorang penolong-Ku, maka Aku mengumumkan perang kepadanya, dan apabila hamba-hamba Ku menghampirkan diri kepada Ku dengan sesuatu amalan, tanda lebih kasih ia kepada Ku, dari pada hanya mengamalkan apa-apa yang telah Ku wajibkan atasnya. Kemudian itu ia terus meneruskan mendekatkan dirinya kepada Ku dengan amalan-amalan yang nawafil (yang baik), hingga Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, adalah Aku pendengarannya bila ia mendengar, dan Aku lah penglihatannya bila ia melihat, dan adalah Aku tangannya bila ia mengambil (melakukan sesuatu), dan adalah Aku kakinya bila ia berjalan; demi jika memohon niscaya Aku perkenankan permohonannya. Demi jika ia meminta perlindungan pastilah Aku lindungi dia”.

Dari penjabaran di atas, proses mendekatkan diri kepada Allah akan berbuah pada akhlak yang karimah karena Allah itu Maha Rahman dan Rahim dan itulah solusi agar islam mampu menjawab tantangan zaman dan peradaban. Semua itu akan kita rasakan ketika Allah mencintai kita. Pancaran sifat-sifat Allah akan menjadi laku sikap kita sehari-hari.

Disisi lain perlu juga kita ketahui bersama, bahwa usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT haruslah melalui pribadi Rasulullah SAW, artinya baik dzahir maupun batin harus mengikuti Rasulullah, sebagaimana dijelaskan oleh firman-Nya di dalam QS.Ali Imran ayat 31 “Katakanlah wahai Muhammad kepada umatmu sekalian, jika engkau sungguh mencintai Allah maka ikutilah aku (Muhammad)”. Lugas sekali dijelaskan, jika mencintai Rasulullah adalah sama dengan mencintai Allah SWT. Untuk mencintai Allah jadilah layaknya pribadi Rasulullah dan untuk dicintai Allah juga demikian, jadilah layaknya pribadi Rasulullah.

Kenapa harus menempuh jalan sufistik?  untuk menjawab itu maka coba kita simak redaksi hadis riwayat.Abu Daud “Kun ma’allaahi fain lam takun ma’allaahi ma’a man ma’allaahi fain nahu yushiluka ilallahi’

artinya: “Adakanlah! (jadikanlah) dirimu itu beserta Allah, jika engkau (belum bisa) menjadikan dirimu beserta Allah, maka (jadikanlah) beserta orang-orang yang beserta Allah, maka seseungguhnya (orang itulah) yang menghubungkan engkau kepada Allah (yaitu rohaninya).

Selain Nabi, ada juga penerus Beliau hingga akhir zaman yang senantiasa beserta dengan Allah, oleh karena itulah hanya dengan melakukan jalan tasawuf, maka kita sebagai umatnya akan mampu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hanya dengan mencintai Rasulullah dan mengikuti para penerusnya lah kita akan terkena bias-bias sifat Rahman dan Rahimnya Allah SWT, dan representasi dari itu semua akan terpancar pada laku, cakap, fikir kita sehari-hari, hingga tiap ucapan lidah, tiap gerakan tangan kita, tiap langkah kaki kita, tiap lini kehidupan kita akan bermanfaat lalu mendatangkan rahmat, karena kita merasa seolah-olah Tuhan senantiasa beserta kita.

Menurut hemat penulis, ber-Akhlaqul karimah layaknya Rasulullah SAW adalah cara untuk kita mengenal Allah, disamping hal itu jugalah yang akan menjadi jawaban atas tantangan zaman dan peradaban yang kian mengelapkan hati kita dari Nurun Ala Nur (baca: Nur Allah yang berdampingan dengan Nur Muhammad).

Jika saja merayakan maulid Nabi menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan rasa cinta itu, lalu kenapa kita tidak bergembira dan merayakan kelahiran Nabi Agung, Muhammad SAW.?

Perayaan maulid bukan hanya mengungkap sisi dzahir Nabi. Tapi juga sisi kerohanian Beliau (baca: maulud). Kita berharap dengan adanya maulid dan maulud tidak ada lagi kekerasan namun yang ada hanyalah kelembutan, karena kekuatan islam itu sesungguhnya ada pada kelembutannya bukan pada kekerasannya.

Mungkin kita semua tahu apa yang dilakukan oleh Nabi pada Yahudi Buta dan Yahudi tua yang selalu melempari Nabi dengan kotoran dan hujatan ?

Inilah nilai sufistik Maulid, menghidupkan sisi akhlaq Rasulullah pada diri kita, agar kita paham bahwa di atas ilmu ada akhlaq. Di atas ketegasan ada kebijaksanaan. Di atas hukum ada kemanusiaan. Di atas keadilan ada rahmatan lil alamin.

Silahkan pembaca membuka Al-Qur’an lalu baca dari ayat awal hingga akhir. Tidak akan kita temukan pujian-pujian kepada Nabi Muhammad SAW karena ketampanannya, karena kealimannya, kepandaiannya, kekayaannya, atau karena kekuasaannya, melainkan karena akhlaknya. Dan kesemua akhlaq itu nihil dan mustahil untuk diteguk kenikmatan nya tanpa menempuh praktek sufistik dibawah bimbingan penerus Rasulullah SAW yang memiliki isi dada yang sama dengan yang dimiliki Nabi kita, Muhammad SAW.

(S.B, Selasa, 10/11/20)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *